Apakah bumi itu datar?
Pertanyaan ini mungkin terdengar konyol di telinga kebanyakan orang. Tapi nyatanya, hingga hari ini masih banyak yang percaya bahwa bumi itu datar—dan bahkan punya komunitas besar yang mendukung teori ini.
Jadi, kenapa masih ada yang percaya bumi datar? Apa buktinya? Dan lebih penting: fakta ilmiahnya apa, sih?
Kenapa Bisa Ada Teori Bumi Datar?
Teori bumi datar bukan hal baru. Di era modern, teori ini mulai populer lagi berkat Samuel Rowbotham, seorang pedagang obat asal Inggris pada abad ke-19. Ia melakukan percobaan di saluran air dan menyimpulkan bahwa bumi tidak melengkung. Dari sinilah lahir Zetetic Astronomy, buku yang menjadi “kitab suci” bagi komunitas flat earth.
Tapi tentu, satu eksperimen sederhana tidak cukup untuk menyingkirkan ribuan tahun pengetahuan ilmiah.
Bukti Ilmiah: Bumi Itu Bulat (dan Sedikit Gemuk!)
Foto dari Luar Angkasa Ratusan satelit, stasiun ruang angkasa, dan misi Apollo telah mengirimkan ribuan gambar bumi yang bulat. Dan bukan hanya dari NASA—negara seperti Jepang, India, dan China juga punya satelit yang menangkap bentuk bumi.
Gerhana Bulan Saat bumi membayangi bulan, bayangan yang muncul selalu melengkung. Hanya benda bulat yang bisa menghasilkan bayangan seperti itu, apapun orientasinya.
Kapal yang Hilang di Cakrawala Coba perhatikan kapal di laut yang menjauh. Lambungnya menghilang duluan, baru tiangnya. Ini hanya bisa terjadi jika permukaan laut melengkung.
Perbedaan Waktu di Dunia Kenapa matahari terbit lebih dulu di Tokyo dibanding Jakarta? Karena bumi bulat dan berotasi. Di model datar, semua tempat seharusnya mendapat cahaya matahari bersamaan.
Gravitasi Gaya gravitasi selalu menarik ke pusat bumi. Di bumi datar, arah “bawah” akan seragam di semua tempat—tapi kenyataannya, arah turun selalu menuju pusat bumi, yang bentuknya bulat.
Terus, Kenapa Masih Ada yang Percaya?
Ini bagian yang menarik. Dari sudut psikologi, keyakinan bukan hanya soal fakta—tapi juga soal identitas. Banyak orang yang percaya bumi datar merasa mereka adalah “pembela kebenaran” yang ditindas oleh sistem. Mereka tidak percaya pada pemerintah, media, atau ilmuwan. Setiap bukti baru justru dianggap rekayasa.
Tambah lagi, algoritme media sosial memperkuat echo chamber. Semakin sering kamu menonton video bumi datar, semakin banyak konten serupa yang ditampilkan. Akhirnya, keyakinan itu semakin kuat.
Kesimpulan: Bumi Itu Bulat, Tapi Tetap Menarik Dibahas
Fakta ilmiah sudah jelas: bumi itu bulat, sedikit gemuk di bagian khatulistiwa, dan terus berotasi setiap hari. Tapi fenomena teori bumi datar tetap menarik karena ia menunjukkan bagaimana keyakinan, emosi, dan teknologi bisa menyaingi fakta.
Jadi, kalau kamu bertemu pendukung bumi datar, jangan langsung menertawakan. Coba tanya:
“Kalau bumi datar, kenapa GPS bisa tepat di rute pesawat?”
Siapa tahu, itu bisa jadi pembuka diskusi yang lebih menarik.
Bagaimana menurutmu?
Apakah kamu punya teman yang percaya bumi datar? Atau kamu pernah debat soal ini?
Tulis pengalamanmu di kolom komentar, yuk!
Jika kamu suka artikel seperti ini, jangan lupa share dan ikuti blog ini untuk update topik menarik lainnya seputar sains, teknologi, dan misteri dunia.
Posting Komentar