Di situs resmi Samsung Indonesia, Galaxy Tab Active5 5G Enterprise Edition dibanderol Rp 8.999.000 Samsung.
Tapi entah kenapa, ketika masuk e‑Katalog, harganya bisa melompat hampir dua kali lipat.
Dan di titik ini, masyarakat cuma bisa bilang:
“Bang… ini tablet apa batu akik era 2014? Kok bisa naik segitunya?”
Bayangin kamu lagi scroll web Samsung, lihat harga Tab Active 5 cuma Rp 9 juta. Kamu senyum-senyum, “Wah, lumayan nih buat kerja lapangan, rugged, tahan banting, IP68, MIL‑STD‑810H, cocok buat nahan emosi liat anggaran negara.”
Eh pas buka e‑Katalog…
“Rp 17,93 juta.”
Muka langsung berubah kayak habis lihat total belanja Shopee pas tanggal tua.
Di titik ini, rakyat cuma bisa bertanya-tanya:
“Ini tablet apa udah di-imbuhin doa-doa khusus sampe harganya naik segitu?”
Atau jangan-jangan,
“Ini harga udah termasuk jasa teleportasi barang langsung ke kantor?”
Karena kalau lihat spesifikasinya, ya memang rugged, tahan banting, baterai lumayan, dan cocok buat kerja lapangan. Tapi tetap saja, Samsung sendiri jual Rp 8.999.000. Bukan Rp belasan juta.
Harga resmi udah jelas terpampang nyata. Jadi kalau ada yang ngotot anggarkan hampir dua kali lipat, wajar dong masyarakat curiga.
Kalau begini caranya, jangan-jangan nanti ada pengadaan:
- Stapler harga Rp 300 ribu
- Mouse wireless Rp 1,2 juta
- Kursi plastik Rp 4 juta
- Dan tentu saja… tablet Rp 17,93 juta
Semua demi “kualitas premium”, katanya.
Padahal rakyat cuma pengen kualitas hidup yang premium juga.
🧠 Penutup:
Kritik ini bukan buat nyinyir doang, tapi buat ngingetin:
Transparansi harga itu penting.
Kalau Samsung aja bisa jual Rp 9 juta, masa iya negara harus bayar hampir Rp 18 juta?
Kalau alasannya “versi enterprise”, ya Samsung juga jual yang enterprise kok — dan tetap Rp 8.999.000. Samsung
Jadi wajar kalau masyarakat makin kritis.
Karena kalau bukan rakyat yang nanya, siapa lagi?
Posting Komentar