Antara rindu dan kekecewaan

Tadi pagi, saat aku membuka pesan darinya, hatiku sedikit berdebar. Ia bilang merindukanku. Katanya, ia tak bisa tidur karena terus memikirkan kenangan kita. Aku hanya tersenyum tipis, mengetik balasan singkat, “Aku juga.” Tapi sebenarnya, aku tak yakin lagi seberapa dalam perasaan itu. Karena aku tahu, segala sesuatu bisa berubah dalam sekejap. Hari ini ia bilang merindukanku, besok mungkin ia akan bilang mencintaiku. Dan lusa, siapa tahu, ia sudah mengucapkan selamat tinggal. Aku pernah merasakan sakit itu. Saat seseorang yang kau anggap penting tiba-tiba berubah, tanpa alasan yang jelas. Ia pergi, bukan karena bertengkar, bukan karena salah paham, tapi hanya karena ia sudah menemukan yang lain. Aku belajar untuk tidak terlalu berharap. Karena semakin tinggi harapan, maka semakin dalam juga luka ketika semuanya runtuh. Dan percayalah, luka itu tak akan pernah terlihat oleh orang lain. Ia hanya tahu bagian luar, tapi mereka tak tahu betapa sulitnya bernapas saat hati terluka. Kadang ak…

About the author

Seorang penulis amatir

Posting Komentar