Jakarta — Dunia pendidikan Indonesia kembali ramai, bukan karena kurikulum baru atau ujian nasional, melainkan karena fenomena langka: pejabat dengan ijazah yang fleksibel seperti karet gelang. Bagaimana tidak, seseorang yang kuliahnya tentang fotosintesis kini fasih mengatur anggaran, sementara lulusan teknik malah piawai memberi wejangan moral di podium.
Peristiwa ini terjadi hampir di seluruh penjuru negeri, dari ruang rapat ber-AC hingga grup WhatsApp keluarga. Siapa pelakunya? Ya tentu saja para pejabat kita yang penuh dedikasi. Kapan mulainya? Sejak ijazah dianggap “simbol cinta almamater” bukan “petunjuk teknis penggunaan otak”. Mengapa bisa begitu? “Yang penting niat,” kata mereka, sambil mengutip motivator YouTube.
Menurut pengamat pendidikan fiktif, Prof. Dr. H. Ngasaluddin, M.Pd., fenomena ini adalah bukti bahwa Indonesia kaya akan SDM rasa serba bisa.
“Ini bukan salah jurusan, ini jurusan yang belum menemukan takdirnya,” ujar beliau serius sambil menyeruput kopi sachet tiga lapis.
Di sisi lain, seorang pejabat (inisial Pak Ajaib) mengaku tak merasa ada yang janggal.
“Saya memang lulusan sastra, tapi anggaran kan juga soal tanda baca. Salah koma, bisa beda arti,” katanya mantap, disambut anggukan kolega yang lulusan olahraga tapi kini mengurusi data.
Menariknya, tren ini disebut-sebut terinspirasi dari Trend di Konoha, di mana seorang ninja bisa berubah dari spesialis taijutsu menjadi ahli strategi hanya dengan kilatan cahaya dan musik latar dramatis. Bedanya, di Indonesia, transformasi terjadi setelah pelantikan dan foto bersama.
Kalangan boomer pun ikut angkat suara.
“Zaman saya, ijazah itu bukti perjuangan. Tapi sekarang, kok kayak kartu UNO, bisa dipakai kapan saja,” ujar Pak Slamet (62), sambil tetap bangga karena anaknya “yang penting kerja”.
Para ahli menyimpulkan, ijazah memang penting, tapi nilai—baik nilai akademik maupun nilai logika—tak kalah krusial. Jika semua orang bisa mengisi semua posisi, mungkin suatu hari nanti kita akan melihat pengumuman: “Dicari pejabat berpengalaman, jurusan bebas, asal percaya diri.”
Dan begitulah, di negeri yang kreatif ini, ijazah bukan lagi peta jalan karier, melainkan kenang-kenangan wisuda. Selebihnya, tinggal meniru jurus Konoha: percaya, teriak sedikit, lalu berharap masalah selesai dengan sendirinya.
Posting Komentar