Menangis Tanpa Jejak Digital

Niatnya kamu ingin lari dari bisingnya dunia maya untuk membangun kehidupan nyata yang lebih tenang, tapi ternyata ketenangan itu malah menjadi ruang kedap suara tempatmu menangis sendirian.

Kamu mungkin masih ingat betul hari itu, ketika kamu memutuskan untuk menekan tombol deactivate atau menghapus semua aplikasi sosial media di ponselmu. Ada perasaan lega yang luar biasa. Kamu merasa sudah terlalu lelah melihat orang-orang memamerkan kehidupan fana mereka, lelah dengan perbandingan yang tidak berujung, dan lelah membuang waktu. Kamu ingin berubah. Kamu merancang sebuah fase hidup baru yang lebih mindful, lebih nyata, dan yang paling penting: kamu merasa aman karena di kehidupan nyata yang tenang itu, ada dia yang mendampingi. Kamu berpikir, biarlah aku kehilangan riuhnya dunia, asalkan aku bisa fokus merawat apa yang ada di depan mata.

Lalu, semesta memutar balikan keadaan dengan cara yang paling tidak masuk akal.

Tepat ketika kamu baru saja mengunci pintu dari dunia luar agar kalian bisa melangkah berdua saja, dia malah melepaskan genggaman tangannya. Tanpa aba-aba yang jelas, dia memutuskan bahwa perjalanan ini cukup sampai di sini. Semua resolusi tentang pendewasaan diri dan kehidupan yang damai hancur lebur dalam hitungan detik, digantikan oleh sunyi yang tiba-tiba terasa begitu mematikan.
Di sinilah letak ironi paling menyayat hati. Ketika manusia hancur, insting pertamanya adalah mencari pelarian atau tempat untuk berteriak. Di masa lalu, patah hati mungkin berarti membuat story dengan latar belakang hitam, membagikan penggalan lirik lagu yang paling mewakili hancurnya perasaan, atau me-repost kutipan-kutipan galau agar setidaknya ada sedikit beban yang terlepas. Kamu mungkin diam-diam berharap dia melihatnya, menyadari kesalahannya, atau setidaknya tahu seberapa hancur dirimu.

Tapi sekarang, kamu bahkan tidak punya panggung untuk rasa sakitmu sendiri.
Kamu terbangun di jam dua pagi dengan dada yang sesak dan napas yang berat. Tanganmu secara refleks meraih ponsel, mencari tempat untuk menumpahkan keputusasaan. Namun, layarmu kosong. Tidak ada aplikasi yang bisa dibuka. Kamu terdiam menatap layar home screen, menyadari bahwa kamu telah menutup semua jalan keluar. Kamu tidak bisa membuat quotes sedih, tidak bisa mencari tahu apakah dia sama hancurnya lewat stalking, dan tidak ada teman-teman maya yang akan merespons story-mu dengan sapaan, "Kamu nggak apa-apa?"

Ini adalah jenis patah hati yang paling mengisolasi. Kamu terkurung dalam komitmenmu sendiri. Ingin kembali mengunduh sosial media rasanya seperti menjilat ludah sendiri; sebuah pengakuan kekalahan bahwa kamu tidak cukup kuat menghadapi kehancuran ini sendirian. Namun, menelan semuanya bulat-bulat di dunia nyata membuatmu merasa seperti tenggelam di ruang hampa. Semua rasa rindu, marah, kecewa, dan tidak terima itu hanya berputar-putar di dalam kepalamu, memantul di dinding kamar yang sepi.
Tidak ada fase soft-selling kesedihan. Tidak ada drama saling hapus foto atau saling unfollow yang biasanya menjadi ritual perpisahan modern. Semuanya terputus begitu saja, bersih, tanpa jejak digital, meninggalkan lubang menganga di dunia nyatamu yang baru saja ingin kamu tata ulang.

Pada akhirnya, kamu dipaksa untuk benar-benar merasakan rasa sakit itu hingga ke tulang, tanpa filter, tanpa distraksi, dan tanpa penonton. Kamu menelan kenyataan bahwa niat awal untuk glow up in silence ternyata hanyalah persiapan dari semesta, agar kamu memiliki ruang yang cukup luas untuk healing in silence. Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu selain dirimu sendiri, menghadapi setiap detik patah hati ini dalam keheningan yang kini harus kamu peluk erat-erat sebagai satu-satunya teman.

About the author

AWVR VERSE
Seorang penulis amatir

Posting Komentar