Hutan Indonesia Resmi Ganti Nama Jadi “Taman Sawit Nasional”

Konoha — Ketika masyarakat dunia sibuk menanam pohon untuk menyelamatkan bumi, Indonesia justru tampil beda dan konsisten: menanam sawit sampai lupa rupa hutan aslinya. Fenomena ini kembali viral di media sosial setelah warganet menyadari bahwa “hutan” kini lebih sering berwarna hijau sawit rapi ketimbang hijau hutan yang acak-acakan.

Peristiwa ini terjadi hampir di mana-mana, kapan saja, dan oleh siapa saja yang memiliki bibit sawit, lahan kosong, dan keyakinan kuat bahwa sawit adalah jalan ninjaku menuju kemakmuran.

Menurut pengamat lingkungan fiktif, Dr. Daun Hilang, M.Hut (Masih Hutan), Indonesia saat ini sedang mengalami fase identity crisis alam.

“Hutan kita tidak hilang, hanya rebranding,” ujarnya sambil menunjuk peta yang kini lebih mirip katalog perkebunan.

Sementara itu, Pak Slamet Sawitno, warga setempat sekaligus “penjaga hutan versi sawit”, mengaku bingung saat anaknya bertanya tentang hutan hujan tropis.

“Saya jawab saja, itu sawit yang daunnya belum disisir,” katanya polos.

Fakta lucu yang beredar di jagat maya menyebutkan bahwa burung kini sudah hafal jam panen, monyet mulai paham harga TBS, dan GPS wisata alam sering tersesat karena semua tempat terlihat sama.
Seorang konten kreator bahkan viral setelah tersesat tiga jam di “hutan”, padahal ia hanya berputar-putar di blok sawit A, B, dan A lagi.

Tak mau kalah, akun-akun humor Indonesia ramai membuat istilah baru seperti “ekowisata rasa gorengan” dan “hutan industrial edisi hijau tapi beda niat”.

Pada akhirnya, sawit dan hutan mengajarkan kita satu hal penting: di Indonesia, apapun bisa tumbuh subur—asal seragam, rapi, dan menghasilkan.

Seperti kata bijak warganet,

“Kalau hutannya hilang, tenang… minimal minyak gorengnya terasa dekat di hati.”

Dan begitulah, ketika sawit lebih banyak daripada pohon di hutan, kita pun sadar: yang benar-benar langka sekarang bukan hutan, tapi rasa kaget melihatnya masih ada.

Posting Komentar