KONOHA NEWS — Indonesia kembali mencatat prestasi membanggakan di bidang yang jarang disorot dunia: jumlah rapat terbanyak tanpa hasil. Berdasarkan pengamatan kasat mata, grup WhatsApp kantor, dan kalender Google yang penuh warna tapi kosong makna, rapat-rapat di Tanah Air berlangsung hampir setiap hari, di mana saja, kapan saja, dan sering kali… untuk merencanakan rapat berikutnya.
Fenomena ini melibatkan semua unsur penting bangsa: karyawan, pimpinan, notulen, snack kotak, dan kalimat legendaris “kita follow up nanti ya”. Tujuan rapat pun beragam, mulai dari membahas masalah kecil, masalah besar, hingga membahas kenapa masalah kemarin belum selesai.
Menurut pengakuan Budi (37), staf senior yang sudah mengikuti 126 rapat sejak Januari dan masih hidup sampai sekarang, rapat di Indonesia memiliki pola yang sangat khas.
“Awalnya rapat jam 9, molor jadi jam 10. Jam 10 dipakai nunggu yang belum datang. Jam 11 diskusi melebar. Jam 12 ditutup karena makan siang. Kesimpulannya: kita rapat lagi besok,” ujar Budi sambil menatap kosong ke dinding ruang meeting.
Media-media fiktif nasional turut menyoroti fenomena ini. Harian Rapat Kita menurunkan artikel berjudul “Rapat Sebagai Gaya Hidup: Dari Ruang Meeting ke Kedai Kopi”, sementara Portal Diskusi Nusantara menyebut rapat telah berevolusi menjadi ajang silaturahmi profesional dengan bonus PowerPoint 78 slide.
Tak kalah menarik, seorang narasumber lain, Ibu Sari, notulen berpengalaman, mengaku bahwa pekerjaannya lebih banyak menulis kata “diskusi berlanjut” dibanding hasil konkret.
“Saya sudah siapkan template notulen. Isinya cuma tanggal, peserta, dan kesimpulan: belum ada keputusan,” katanya bangga.
Fakta lucu lainnya, sebuah survei internal tak resmi menemukan bahwa:
60% rapat diawali dengan kalimat “rapat ini sebentar saja”
30% waktu rapat habis untuk mencari kabel HDMI
10% sisanya digunakan untuk berkata, “slide saya belum update, tapi intinya begini…”
Puncaknya terjadi saat sebuah rapat besar digelar khusus untuk membahas kenapa rapat-rapat sebelumnya tidak efektif. Rapat tersebut berlangsung empat jam dan ditutup dengan kesepakatan bulat: dibentuk tim kecil untuk rapat lanjutan.
Para ahli (yang juga fiktif) menyimpulkan bahwa rapat di Indonesia bukan soal hasil, melainkan proses. Selama semua sudah duduk, bicara, dan foto bersama untuk laporan, maka rapat dianggap sukses secara spiritual.
Sebagai pelajaran moral, masyarakat diimbau untuk tidak meremehkan rapat. Sebab di negeri ini, rapat bukan untuk menyelesaikan masalah, tapi untuk memastikan masalah tidak merasa sendirian.
Dan jika setelah membaca berita ini Anda terpikir untuk mengadakan rapat membahas isinya—selamat. Anda sudah sepenuhnya memahami esensi rapat di Indonesia.
Posting Komentar