Hantu Birokrasi di Desa Konoha

Malam sudah larut di Desa Konoha. Bulan bersinar redup, seakan malu menyaksikan kejadian memalukan yang menimpa Ino Yamanaka. Baru saja ia menyelesaikan misi rutin membersihkan rumah nenek-nenek pengadu yang doyan melaporkan masalah sepele ke Hokage.

"Ini lumayan," gumam Ino, memegang gulungan misi yang basah kuyup. "Kalau gaji segini doang, lebih baik aku jual bunga saja."

Di tengah keheningan, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari kejauhan. Bukan ledakan jutsu api, bukan pula langkah kaki binatang buas, tapi suara yang lebih mengerikan: suara mikrofon yang feedback (dengung) keras hingga menembus gendang telinga.

ZINGGG!

Dari balik semak-semak, muncullah sosok berkabut putih tebal. Sosok itu menyerupai manusia, tapi ujung kepalanya menyerupai bola dunia, dan di tangan kanannya memegang megafon raksasa bertuliskan: "KEPUASAN MASYARAKAT ADALAH PRIORITAS."

"Ino...!" seru sosok itu dengan suara berat dan penuh efek gema. "Kami menerima laporan... bahwa Anda... tidak tersenyum saat memberikan salam!"

Ino melengkah mundur. "Apa-apaan hantu setan ini?"

Hantu itu maju selangkah, tubuhnya bergetar hebat seolah sedang menahan emosi, tapi wajahnya datar tak bereskpresi. "Ini adalah... tinjauan lapangan... mendadak! Untuk... memastikan kualitas pelayanan... shinobi... tetap prima!"

"Hantu Inspeksi Mendadak?!" teriak Ino. "Hanya untuk itu kamu datang dari alam kubur?!"

Hantu itu mengangkat jari telunjuknya dengan angkuh. "Bukan sekadar 'hanya'... ini adalah... upaya... sinkronisasi... visi dan misi... Desa Konoha... menuju... era kesejahteraan... yang... berkelanjutan!"

Ino mengeluh pelan. "Dasar, ngomongnya putus-putus kayak lagi loading."

Tiba-tiba, sosok Shikamaru Nara muncul dari atas atap, menguap lebar. "Hei, keributan apa sih malam-malam gini? Capek ah, hidupku troublesome banget."

Hantu itu langsung berbalik arah, kabutnya bergerak cepat menyerbu Shikamaru. "Nara Shikamaru! Kami mencatat... bahwa tingkat... ketiduran Anda... di tempat kerja... telah mencapai... angka... kegalauan demografis... yang mengkhawatirkan!"

Shikamaru mengerutkan kening. "Hah? Ngomong apa sih?"

"Itu artinya... Anda malas!" teriak hantu itu lewat megafon. "Dan kami akan... melakukan... restrukturisasi... pola pikir... Anda... melalui... sosialisasi... intensif... berbasis... teknologi... informasi!"

Shikamaru mendesah. "Cih, bahasanya berbelit-belit. Intinya mau bilang aku harus kerja keras ya? Ngomong aja langsung, jangan pakai istilah-istilah kampus yang tidak jelas arahnya."

Hantu itu tersentak. Tubuhnya berkedip-kedip seperti lampu neon yang mau mati. "Kami... tidak... menggunakan... kalimat... langsung! Kami... mengutamakan... estetika... kebijakan... yang... elegan... dan... berbudaya!"

Saat itu, Naruto yang sedang lewat mencium bau ramen pun berhenti. "Eh? Ada musuh baru? Oi, datanglah Jutsu Rasenganku!"

Naruto menghampiri mereka dengan wajah si tempur. "Siapa yang mengganggu warga Desa Konoha?!"

Hantu itu melihat Naruto, matanya berbinar-binar menatap simbol '7' di jaket Naruto. "Ah... Uzumaki Naruto... Simbol... perubahan... Kami ingin... menyampaikan... aspirasi... mengenai... pentingnya... pemenuhan... gizi... karbohidrat... bagi... generasi... penerus... bangsa... demi... ketahanan... pangan... nasional!"

Naruto memegang kepalanya yang pusing. "Maksudnya... saya harus makan ramen banyak?"

"Bukan!" seru Hantu itu panik. "Itu adalah... paradigma... holistik... tentang... tanggung jawab... moral... dalam... konsumsi... kalori... yang... proporsional!"

"Piknik!" teriak Naruto frustasi. "Sumpah, dari tadi kamu ngomong apa sih? Kalau mau suruh aku makan ramen, bilang aja 'Naruto, ayo makan ramen'. Kalau mau marahin Shikamaru, bilang aja 'Hei, jangan malas-malasan'. Kenapa harus pakai ribuan kata yang gak nyambung gitu?"

Shikamaru menyikut lengan Naruto. "Biarin, Naruto. Dia itu hantu birokrat, Naruto. Kalau ngomongnya jelas dan singkat, nanti dia merasa nggak kerja. Kebiasaan kerjanya cuma muter-muter di tempat, bikin pusing orang lain, tapi hasilnya nol."

Hantu itu mulai panik. Ia merasa otoritasnya diganggu oleh logika sederhana.

"Kalian... tidak menghargai... regulasi... yang berlaku!" teriak Hantu, mulutnya mengeluarkan asap tebal berwarna ungu. "Ini adalah... protokol... standar... operasional... dari... alam... baka! Kalian harus... mendengarkan... dengan... seksama... sampai... selesai... kalimat... ini...!"

Namun, karena terlalu banyak kata mutiara yang dikeluarkan dalam satu napas, baterai kekuatan spiritual Hantu Birokrasi itu justru drop.

Bletak!

Megafon di tangan hantu itu jatuh. Tubuhnya yang berkabut mulai mengecil dengan sangat cepat.

"Gagal... implementasi..." lirih hantu itu pelan sebelum akhirnya lenyap ditelan angin malam, menyisakan secarik kertas bertuliskan: "LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN KEGIATAN (BELUM DIISI)" yang tertiup angin ke selokan.

Naruto terdiam sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak. "Gila banget! Musah baru yang lemah! Barusan dia kalah sama napasnya sendiri!"

Shikamaru mengangkat bahu. "Ya sudahlah, Naruto. Lebih baik kita pulang. Takut nanti datang lagi 'Hantu Debat Kusir' yang suka ngeles kalau disalahkan."

Ino menghela napas lega. "Akhirnya hening. Gila sih, diserang hantu yang suka pakai buzzword doang. Lebih mengerikan dari jurus E-rank punya Sakura dulu."

Malam kembali tenang di Konoha. Namun, di benak para ninja, terbayang sosok menakutkan itu: hantu yang suka bicara panjang lebar, penuh janji manis, tapi ketika diminta bertindak nyata, malah menghilang dan menyalahkan 'sistem'.

Posting Komentar