Menangis Tanpa Jejak Digital

Niatnya kamu ingin lari dari bisingnya dunia maya untuk membangun kehidupan nyata yang lebih tenang, tapi ternyata ketenangan itu malah menjadi ruang kedap suara tempatmu menangis sendirian. Kamu mungkin masih ingat betul hari itu, ketika kamu memutuskan untuk menekan tombol deactivate atau menghapus semua aplikasi sosial media di ponselmu. Ada perasaan lega yang luar biasa. Kamu merasa sudah terlalu lelah melihat orang-orang memamerkan kehidupan fana mereka, lelah dengan perbandingan yang tidak berujung, dan lelah membuang waktu. Kamu ingin berubah. Kamu merancang sebuah fase hidup baru yang lebih mindful, lebih nyata, dan yang paling penting: kamu merasa aman karena di kehidupan nyata yang tenang itu, ada dia yang mendampingi. Kamu berpikir, biarlah aku kehilangan riuhnya dunia, asalkan aku bisa fokus merawat apa yang ada di depan mata. Lalu, semesta memutar balikan keadaan dengan cara yang paling tidak masuk akal. Tepat ketika kamu baru saja mengunci pintu dari dunia luar agar kalian …

About the author

Seorang penulis amatir

Posting Komentar